Cara Memisahkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel dengan Metode Titik Tertinggi – Terendah

Meskipun sangat berguna antara lain dalam penentuan harga jual produk yang tepat, informasi tentang biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost) sering kali tidak dapat ditelusuri dengan mudah. Umumnya kita hanya memperoleh total biaya yang tidak merinci nilai biaya yang termasuk ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Oleh karena itu, tulisan ini akan menjelaskan tentang bagaimana kita dapat memisahkan total biaya untuk kemudian menentukan komponen biaya tetap dan biaya variabelnya.

Dalam tulisan ini, pemisahan biaya tetap dan biaya variabel dari total biaya akan dilakukan dengan menggunakan metode titik tertinggi dan titik terendah (high-low method). Dengan metode ini, kita akan membandingkan titik biaya tertinggi dan titik biaya terendah untuk menentukan nilai biaya tetap dan biaya variabelnya. Penggunaan metode ini juga memiliki keterkaitan dengan Persamaan 2 Total Biaya yang dirumuskan sebagai berikut.

Total Biaya = Total Biaya Tetap + (Biaya Variabel per Unit x Jumlah Output)

Sebagai contoh, asumsikan Anda sebagai pedagang pakaian memiliki data penjualan pakaian dan total biaya untuk bulan Januari-Juni sebagai berikut.

BulanTotal BiayaJumlah Pakaian Terjual
Januari5.500.000100
Februari10.500.000200
Maret6.000.000110
April13.000.000250
Mei25.500.000500
Juni13.000.000250
Tabel 1. Data Total Biaya dan Total Penjualan

Berdasarkan Tabel 1, Anda ingin mengetahui komponen biaya tetap dan biaya variabel dalam struktur biaya usaha Anda. Untuk itu, kita dapat menggunakan metode titik tertinggi dan titik terendah dengan langkah-langkah sebagai berikut.

Langkah 1. Menentukan Titik Tertinggi dan Titik Terendah

Langkah pertama adalah menentukan titik tertinggi dan titik terendah dari data yang kita miliki. Perlu dipahami bahwa titik tertinggi (terendah) merupakan titik yang menunjukkan tingkat aktivitas atau level output tertinggi (terendah). Berdasarkan Tabel 1, titik tertinggi dan titik terendah ditetapkan sebagai berikut.

Titik tertinggi = Titik output tertinggi = 500 pakaian terjual (total biaya Rp25,5juta)

Titik terendah = Titik output terendah = 100 pakaian terjual (total biaya Rp5,5juta)

Langkah 2. Menentukan Biaya Variabel per Unit

Setelah menentukan titik tertinggi dan terendah, langkah selanjutnya adalah menghitung biaya variabel per unit (variable rate) dengan membandingkan total biaya dan total output antarkedua titik sebagai berikut.

Perbedaan Total Biaya = Total Biaya di Titik Tertinggi – Total Biaya di Titik Terendah

Perbedaan Total Output = Total Output di Titik Tertinggi – Total Output di Titik Terendah

Biaya Variabel per Unit = Perbedaan Total Biaya / Perbedaan Total Output … (1)

Dengan menggunakan Persamaan 1, kita dapat menghitung biaya variabel per unit adalah sebesar (Rp25,5 juta – Rp5,5 juta) / (500 – 100) = Rp50 ribu.

Langkah 3. Menentukan Biaya Tetap

Untuk menentukan biaya tetap, kita memasukkan nilai biaya variabel per unit yang telah diperoleh ke dalam Persamaan 2 Total Biaya, baik di titik tertinggi atau di titik terendah (keduanya akan memberikan hasil yang sama).

Penggunaan di Titik Tertinggi (500 output dan total biaya Rp25,5juta)

Total Biaya = Total Biaya Tetap + (Biaya Variabel per Unit x Jumlah Output)

Rp25,5 juta = Total Biaya Tetap + (Rp50 ribu x 500)

Total Biaya Tetap = Rp500 ribu

Penggunaan di Titik Terendah (100 output dan total biaya Rp5,5juta)

Total Biaya = Total Biaya Tetap + (Biaya Variabel per Unit x Jumlah Output)

Rp5,5 juta = Total Biaya Tetap + (Rp50 ribu x 100)

Total Biaya Tetap = Rp500 ribu

Langkah 4. Menyusun Persamaan Biaya

Setelah memperoleh biaya variabel per unit dan total biaya tetap, kita dapat menyusun persamaan biaya dari usaha pakaian sebagai berikut.

Total Biaya = Rp500 ribu + (Rp50 ribu x Jumlah Pakaian Terjual)

Dengan menyusun persamaan biaya, kita dapat mengestimasikan total biaya usaha kita dengan menggunakan perkiraan jumlah pakaian yang terjual. Sebagai contoh apabila di bulan Juli diperkirakan pakaian yang terjual sebanyak 300 unit, maka estimasi total biaya adalah sebesar = Rp500 ribu + (Rp50 ribu x 300) = Rp15,5 juta.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah serta Metode Alternatif

Kemudahan penggunaan menjadi salah satu kelebihan utama penggunaan metode titik tertinggi dan titik terendah. Selain itu, metode titik tertinggi – terendah bersifat objektif karena membandingkan dua titik dari data yang tersedia dan terlepas dari penilaian subjektif.

Meski demikian, metode titik tertinggi-terendah juga memiliki kelemahan. Kelemahan utama dari metode ini adalah adanya kemungkinan titik tertinggi atau titik terendah yang digunakan merupakan titik-titik yang bersifat outlier atau berada di luar tren normal. Ketika titik yang digunakan merupakan outlier, maka hasil yang diperoleh menjadi tidak representatif.

Selain metode titik tertinggi-terendah, metode lain yang dapat digunakan untuk memisahkan biaya tetap dan biaya variabel dari total biaya antara lain yaitu mengombinasikan plot data (scatterplot) dengan metode titik tertinggi-terendah untuk menghilangkan titik-titik outlier atau menggunakan pendekatan regresi.

Kalkulator Metode Titik Tertinggi – Terendah

Kalkulator Metode Titik Tertinggi – Terendah ini dibuat untuk memudahkan Anda memisahkan biaya tetap dan biaya variabel secara mudah dan cepat dengan menggunakan metode titik tertinggi – terendah. Anda hanya perlu mengisi kolom-kolom berikut dengan data yang Anda miliki.

Referensi:

Mowen, Maryanne M., Don R. Hansen, dan Dan L. Heitger. (2014). Cornerstones of Managerial Accounting 5th Edition. South-Western Cengage Learning.

Was this helpful?

14 / 0

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *