Contoh Analisis Prospektif: Proyeksi Laporan Keuangan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. - Blog Pajak dan Bisnis

Contoh Analisis Prospektif: Proyeksi Laporan Keuangan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.

rikiasp.id Analisis Prospektif Proyeksi Laporan Keuangan
Ilustrasi Analisis Prospektif (Foto: Freeimages)

Analisis prospektif atas laporan keuangan adalah suatu teknik analisis yang dilakukan untuk memperoleh gambaran atau prediksi kinerja keuangan suatu perusahaan di masa depan. Salah satu bentuk analisis prospektif yang paling banyak digunakan adalah penyusunan proyeksi atas laporan keuangan. Analisis prospektif dapat memberikan manfaat baik bagi investor maupun kreditor. Bagi investor, analisis prospektif merupakan salah satu basis yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian (valuation) atas saham perusahaan. Sedangkan bagi kreditor, analisis prospektif berguna untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya di masa depan.

Analisis prospektif berupa penyusunan proyeksi atas laporan keuangan perusahaan membutuhkan asumsi yang menjadi basis dalam mengestimasi nilai masing-masing komponen di dalam laporan keuangan. Asumsi tersebut dapat berasal dari tren kinerja perusahaan beberapa tahun sebelumnya, strategi yang akan diambil oleh perusahaan, atau perkembangan kondisi makroekonomi. Penyusunan proyeksi atas laporan keuangan dimulai dari proyeksi atas laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain lalu diikuti oleh proyeksi atas laporan posisi keuangan dan proyeksi atas laporan arus kas. Tulisan ini akan menguraikan setiap tahap dalam proses penyusunan proyeksi laporan keuangan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA) untuk tahun 2021.

Proyeksi Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain

Hasil proyeksi atas Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain DVLA untuk tahun 2021 disajikan di dalam Lampiran 1.

Informasi atau asumsi dasar yang digunakan dalam menyusun proyeksi untuk masing-masing elemen adalah sebagai berikut.

  1. Seiring dengan pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 dan semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat terkait kesehatan, pendapatan neto DVLA diasumsikan akan mengalami peningkatan sebesar 2% di tahun 2021. Membaiknya rantai pasokan global juga diprediksikan akan berdampak positif pada peningkatan margin laba bruto Perseroan menjadi sebesar 52%. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan neto Perseroan akan menjadi sebesar Rp1,866 triliun dengan laba bruto yang meningkat menjadi sebesar Rp970 miliar.
  2. Basis yang digunakan untuk mengestimasi nilai beban penjualan dan pemasaran, beban administrasi, beban lain-lain, dan pendapatan lain-lain adalah hasil analisis vertikal atas proporsi elemen-elemen tersebut terhadap pendapatan neto DVLA tahun 2020. Dengan melakukan sedikit penyesuaian (peningkatan), proporsi elemen-elemen tersebut terhadap pendapatan neto DVLA tahun 2021 diprediksi menjadi sebesar 29,5% untuk beban penjualan dan pemasaran, 11% untuk beban administrasi, 0,6% untuk beban lain-lain, dan 1,1% untuk pendapatan lain-lain. Pada akhirnya, laba usaha Perseroan diprediksi meningkat sebesar 6,28% menjadi sebesar Rp223 miliar.
  3. Margin laba sebelum beban pajak penghasilan diasumsikan meningkat menjadi 12,2%. Kondisi ini akan mengakibatkan laba sebelum beban pajak penghasilan DVLA menjadi sebesar Rp227 miliar. Untuk mencapai laba sebelum beban pajak penghasilan sebesar itu, proporsi pendapatan keuangan, pajak terkait pendapatan keuangan, dan beban keuangan terhadap pendapatan neto ditetapkan masing-masing sebesar 0,3%, 0,06%, dan 0,04%.
  4. Beban pajak penghasilan di tahun 2021 ditetapkan sebesar 25% dari laba sebelum beban pajak penghasilan (termasuk dampak dari pajak tangguhan). Hal ini mengakibatkan laba tahun berjalan DVLA di tahun 2021 meningkat sebesar 5,36% menjadi sebesar Rp170 miliar. Nilai EPS Perseroan juga akan meningkat menjadi sebesar Rp152,00 per lembar saham (rupiah penuh) dari tahun sebelumnya sebesar Rp145,00 per lembar saham (rupiah penuh).
  5. Untuk elemen penghasilan (rugi) komprehensif lain, proporsi elemen pengukuran kembali atas program imbalan pasti, keuntungan dari instrumen ekuitas yang ditentukan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain, dan pajak penghasilan terkait pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi terhadap pendapatan neto diestimasikan masing-masing sebesar 1%, 0,01%, dan 0,21% di tahun 2021. Kondisi ini akan berimplikasi pada penurunan rugi komprehensif lain tahun berjalan setelah pajak dari sebesar (Rp24 miliar) menjadi sebesar (Rp14,5 miliar). Dengan mengurangkan laba tahun berjalan dengan rugi komprehensif lain tahun berjalan setelah pajak, total penghasilan komprehensif tahun berjalan akan meningkat sebesar 13,27% menjadi sebesar Rp156 miliar.

Proyeksi Laporan Posisi Keuangan

Hasil proyeksi atas Laporan Posisi Keuangan DVLA untuk tahun 2021 disajikan di dalam Lampiran 2.

Informasi atau asumsi dasar yang digunakan dalam menyusun proyeksi untuk masing-masing elemen adalah sebagai berikut.

  1. Dalam penyusunan proyeksi Laporan Posisi Keuangan DVLA tahun 2021, elemen aset tak berwujud, modal dasar, tambahan modal disetor, dan saldo laba yang telah ditentukan penggunaannya diasumsikan tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
  2. Rugi komprehensif lain DVLA untuk tahun 2021 diperoleh dengan menambahkan saldo rugi komprehensif lain tahun 2020 dengan estimasi rugi komprehensif lain tahun berjalan setelah pajak berdasarkan proyeksi Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain tahun 2021.
  3. Estimasi saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya di tahun 2021 diperoleh dengan menambahkan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya di tahun 2020 dengan estimasi laba tahun berjalan di tahun 2021 dan dikurangi dividen yang diprediksi akan dibayarkan Perseroan di tahun 2021. Perseroan diprediksi akan membayarkan dividen dengan jumlah yang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp107,00 per lembar saham.
  4. Dengan menjumlahkan seluruh estimasi elemen ekuitas, total ekuitas Perseroan diprediksikan akan mengalami peningkatan sebesar 2,74% dari sebelumnya sebesar Rp1,326 triliun di tahun 2020 menjadi sebesar Rp1,362 triliun di tahun 2021.
  5. Hasil analisis rasio menunjukkan rasio utang terhadap ekuitas perseroan di tahun 2020 adalah sebesar 0,5. Dengan asumsi tidak terjadi perubahan atas nilai rasio tersebut, total liabilitas Perseroan di tahun 2021 diestimasikan menjadi sebesar Rp681 miliar, naik sebesar 3,17% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
  6. Liabilitas imbalan kerja di tahun 2021, baik jangka pendek maupun jangka panjang, diestimasikan bertambah sebesar 75% dari estimasi nilai pengukuran kembali atas program imbalan pasti sesuai Proyeksi Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain tahun 2021.
  7. Dengan asumsi Perseroan tidak memiliki liabilitas jangka panjang selain liabilitas imbalan kerja sebagaimana terjadi di tahun 2020, liabilitas jangka panjang di tahun 2021 adalah sama dengan estimasi nilai liabilitas imbalan kerja jangka panjang yaitu sebesar Rp118 miliar. Sementara itu, sisanya sebesar Rp562 miliar termasuk ke dalam kategori liabilitas jangka pendek.
  8. Di tahun 2021, perputaran utang usaha Perseroan diasumsikan turun menjadi 6,5 dan 10% dari total nilai utang merupakan utang kepada pihak berelasi. Liabilitas sewa jangka pendek diprediksi meningkat sebesar 5%.
  9. Estimasi beban akrual ditetapkan sebesar 30% dari estimasi beban usaha sedangkan utang pajak (dan aset pajak tangguhan) diprediksi mengalami peningkatan sebesar 9%. Sementara itu, estimasi nilai liabilitas keuangan jangka pendek lainnya diperoleh dengan mengurangkan nilai total liabilitas jangka pendek dengan estimasi nilai seluruh elemen liabilitas jangka pendek selain liabilitas keuangan jangka pendek lainnya.
  10. Total aset Perseroan diperoleh dengan menjumlahkan total nilai liabilitas dengan total nilai ekuitas. Di tahun 2021, total aset Perseroan diprediksi meningkat sebesar 2,88% dari sebesar Rp1,98 triliun di tahun 2020 menjadi sebesar Rp2,04 triliun di tahun 2021.
  11. Penyertaan saham dan aset keuangan tidak lancar diestimasi meningkat sebesar 3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, aset keuangan lancar lainnya, biaya dibayar di muka, dan aset lain-lain diprediksi ikut mengalami kenaikan sebesar 2%.
  12. Di tahun 2021, perputaran aset berwujud Perseroan diasumsikan mencapai 3,6 dengan proporsi aset tetap sebesar 90%, properti investasi 9,5%, dan aset hak guna sebesar 0,5%.
  13. Estimasi total aset tidak lancar Perseroan di tahun 2021 diperoleh dengan menjumlahkan seluruh komponen aset tidak lancar dan diperoleh jumlah sebesar Rp625 miliar. Dengan demikian, dari estimasi total aset sebesar Rp2,04 triliun, sebesar Rp1,4 triliun merupakan aset lancar.
  14. Perputaran piutang usaha Perseroan diprediksi menjadi 2,5 dengan 5% dari total piutang usaha merupakan piutang usaha pihak berelasi. Perputaran persediaan ditetapkan sebesar 2,3 dan uang muka diestimasi mengalami peningkatan sebesar 10%.
  15. Estimasi kas dan setara kas yang dimiliki oleh Perseroan diperoleh dengan mengurangkan estimasi total aset lancar dengan nilai seluruh komponen aset lancar kecuali kas dan setara kas. Per 31 Desember 2021, jumlah kas dan setara kas Perseroan diestimasi mengalami penurunan sebesar 14,42% menjadi sebesar Rp227 miliar dari tahun 2020 sebesar Rp265 miliar.

Proyeksi Laporan Arus Kas

Hasil proyeksi atas Laporan Arus Kas DVLA untuk tahun 2021 disajikan di dalam Lampiran 3.

Proyeksi Laporan Keuangan DVLA menggunakan data yang berasal dari proyeksi Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain dan proyeksi Laporan Posisi Keuangan. Proyeksi laporan arus kas dilakukan dengan menggunakan metode langsung. Informasi atau penjelasan atas proyeksi Laporan Arus Kas DVLA di tahun 2021 adalah sebagai berikut.

  1. Arus kas neto Perseroan dari aktivitas operasi di tahun 2021 diestimasi akan mengalami peningkatan sebesar 6,52% menjadi sebesar Rp113,5 miliar. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp140 miliar, atau naik 8,35% dari tahun sebelumnya. Total pembayaran kepada pemasok dan karyawan juga ikut meningkat dari sebelumnya sebesar Rp1,53 triliun menjadi Rp1,67 triliun (penyajian proyeksi pembayaran kepada pemasok dan kepada karyawan secara terpisah dengan metode langsung sulit dilakukan dan dapat menimbulkan kerancuan mengingat komponen beban yang digunakan sebagai dasar disajikan secara agregat).
  2. Selama tahun 2021, Perseroan diprediksi akan melakukan pembelanjaan modal sebesar Rp35 miliar, turun sebesar 42,06% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp60,5 miliar dan sebagian besar merupakan akuisisi atas aset berwujud.
  3. Pengeluaran kas terbesar Perseroan selama tahun 2021 berasal dari pembayaran dividen sebesar Rp119,8 miliar. Jumlah ini sama dengan jumlah yang dibayarkan oleh Perseroan di tahun 2020.
  4. Secara agregat, selama tahun 2021 Perseroan masih mencatatkan arus kas negatif, yaitu sebesar (Rp38 miliar). Namun, jumlah ini menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya ketika arus kas neto Perseroan tercatat sebesar (Rp73,7 miliar). Kondisi ini mengakibatkan kas dan setara kas Perseroan per 31 Desember turun sebesar 21,75% menjadi sebesar Rp227 miliar.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil proyeksi atas Laporan Keuangan DVLA untuk tahun 2021, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

  1. Dengan mempertimbangkan efek pemulihan ekonomi dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terkait kesehatan, pendapatan neto DVLA diprediksi mengalami peningkatan sebesar 2% dengan margin laba bruto sebesar 52%. Meskipun beban ikut meningkat, secara agregat, laba bersih Perseroan tumbuh sebesar 5,36% menjadi Rp170 miliar. EPS Perseroan di tahun 2021 juga meningkat menjadi Rp152,00 per lembar saham.
  2. Peningkatan laba bersih Perseroan mengakibatkan jumlah aset meningkat sebesar 2,88% menjadi Rp2,04 triliun di tahun 2021. Proporsi total utang terhadap total ekuitas diasumsikan tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu berada di level 0,5.
  3. Meskipun arus kas neto dari aktivitas operasi diestimasi meningkat sebesar 6,25% menjadi Rp113,5 miliar, jumlah tersebut belum mampu menutupi kas yang dibutuhkan Perseroan untuk kebutuhan akuisisi aset dan pembayaran dividen. Kondisi ini mengakibatkan Perseroan masih harus mencatatkan arus kas negatif di tahun 2021 sebesar Rp38 miliar dan jumlah kas dan setara kas per 31 Desember 2021 turun sebesar 21,75%.

Daftar Pustaka

  1. Subramanyam, K. R. 2014. Financial Statement Analysis Eleventh Edition. McGraw-Hill Education.
  2. PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. Laporan Tahunan 2020.

Catatan

Analisis prospektif berupa proyeksi Laporan Keuangan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA) tahun 2021 yang disajikan dalam pembahasan ini hanya digunakan sebagai contoh pembelajaran dan tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi keputusan tertentu.

Was this helpful?

4 / 0

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *