Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Melalui MESOP - Studi Kasus Bank BRI Agro - Blog Pajak dan Bisnis

Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Melalui MESOP – Studi Kasus Bank BRI Agro

Sebagaimana diberitakan oleh Kontan, PT Bank Agroniaga Tbk (AGRO) akan melakukan pembagian saham kepada manajemen dan karyawannya melalui program Management Employee Stock Option Plan (MESOP) sebanyak-banyaknya 350 juta saham. Periode pelaksanaan program konversi MESOP menjadi saham bagi karyawan dan manajemen tersebut akan dilakukan 30 hari terhitung sejak 1 April 2021.

“MESOP merupakan keputusan yang disetujui dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan pada 26 Juni 2018,” kata Direktur Utama BRI Agro, Ebeneser Girsang dalam keterbukaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/3). Manajemen dan karyawan BRI Agro bisa membeli saham perseroan dengan harga murah. Harga pelaksanaan MESOP ini terbagi atas tiga tahap. Tahap pertama seharga Rp 285 per saham, tahap kedua Rp 295 per saham, dan tahap ketiga Rp 100 per saham.

Pada penutupan perdagangan bursa sesi I, Rabu (24/3), harga saham AGRO turun 1,3% ke level Rp 1.185. Dalam sepekan, saham bank ini tercatat terkoreksi 11,2% dan dalam satu bulan tercatat turun 6%. Sedangkan tiga bulan masih menguat sebesar 14,5%.

******

Management and Employee Stock Program (MESOP) merupakan suatu program kepemilikan atas saham perseroan yang diberikan oleh perseroan kepada manajemen dan pegawainya. Pada umumnya, program MESOP merupakan bagian dari kompensasi perseroan kepada manajemen dan pegawai atas dedikasi dan kontribusi mereka kepada perseroan sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan rasa memiliki manajemen dan pegawai terhadap perseroan. Melalui MESOP, manajemen dan pegawai memiliki hak opsi untuk membeli saham perseroan dengan harga yang telah ditentukan yang umumnya lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar. Tulisan ini akan mengulas secara singkat mengenai program MESOP sebagai bagian dari mekanisme tata kelola perusahaan (corporate governance mechanism).

Sebagaimana diberitakan di dalam artikel, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) akan melaksanakan program MESOP kepada manajemen dan pegawai mereka selama tiga puluh hari terhitung sejak tanggal 1 April 2021. Melalui MESOP, manajemen dan pegawai AGRO diberikan hak opsi untuk membeli saham perseroan dalam tiga tahap dengan harga pelaksanaan untuk masing-masing tahap adalah sebesar Rp285, Rp295, dan Rp100 per lembar saham. Dengan mengacu harga pasar saham AGRO pada tanggal 24 Maret 2021 sebesar Rp1.185 per lembar saham, pelaksanaan program MESOP akan memberikan keuntungan bagi manajemen dan karyawan AGRO berupa selisih harga saham hingga sepuluh kali lipat. Jumlah keuntungan ini berpotensi akan semakin meningkat apabila harga pasar saham AGRO terus mengalami kenaikan yang antara lain disebabkan misalnya oleh peningkatan kinerja dan profitabilitas perseroan.

Pemahaman mengenai tata kelola perusahaan tidak dapat dilepaskan dengan teori agensi (agency theory). Secara garis besar, teori agensi menjelaskan hubungan antara principal dan agent yang timbul ketika principal mendelegasikan pengelolaan dan pengendalian atas sumber daya kepada agent. Apabila dikaitkan dengan AGRO, pemegang saham AGRO sebagai principal menyerahkan tanggung jawab pengelolaan sumber daya AGRO kepada manajemen AGRO selaku agent dengan harapan manajemen AGRO dapat mengelola perseroan sedemikian rupa yang dapat memaksimalkan nilai (value) pemegang saham.

Meskipun hubungan agensi pada umumnya berjalan dengan lancar, terdapat potensi permasalahan (agency problem) yang timbul ketika principal dan agent memiliki tujuan yang berbeda atau ketika tindakan agent tidak mencerminkan kepentingan utama principal. Manajemen AGRO mungkin saja memiliki tujuan yang berbeda dengan pemegang saham AGRO terkait pengelolaan sumber daya AGRO atau melakukan tindakan yang tidak didasarkan atas kepentingan utama pemegang saham AGRO. Kondisi ini terutama disebabkan oleh adanya asimetris informasi (information asymmetry) yang timbul karena agent memiliki pengetahuan dan informasi yang lebih baik terkait sumber daya yang mereka kelola dibandingkan principal. Keberadaan asimetris informasi dapat dieksploitasi oleh beberapa agent untuk memaksimalkan keuntungan pribadi mereka dan merugikan principal.

Oleh karena itu, tantangan yang harus dihadapi oleh principal dalam mengatasi permasalahan agensi berkaitan dengan bagaimana mengarahkan perilaku agent agar sesuai dengan tujuan principal dan mengurangi tingkat asimetris informasi. Untuk tujuan tersebut, principal dapat mengembangkan mekanisme untuk memastikan bahwa tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) telah diterapkan sehingga tercipta keselarasan tujuan antara principal dan agent dan mekanisme yang dapat digunakan dalam mengawasi dan mengendalikan perilaku agent.

Management Stock Option Program (MSOP) merupakan salah satu opsi yang dapat digunakan untuk mengurangi intensitas terjadinya permasalahan agensi. Penerapan MSOP dapat dianggap sebagai insentif atau kompensasi kepada agent agar bertindak sesuai kepentingan principal. Dalam kaitannya dengan program MSOP di AGRO misalnya, manajemen AGRO didorong untuk merumuskan dan mengimplementasikan strategi yang dapat memaksimalkan profitabilitas dan pertumbuhan laba jangka panjang AGRO melalui pemberian kompensasi berupa saham perseroan. Program MSOP memberikan keuntungan bagi manajemen berupa kenaikan harga pasar saham seiring dengan peningkatan kinerja perseroan sehingga dapat dikatakan bahwa MSOP mengaitkan pemberian kompensasi dengan kinerja manajemen (pay-for-performance system).

Perlu dipahami bahwa penerapan teori agensi dapat diperluas tidak hanya mencakup hubungan antara pemegang saham dengan manajemen, tetapi juga mencakup hubungan antarlevel manajemen dan hubungan manajemen dan pegawai. Hubungan agensi tidak hanya terbatas pada pemegang saham AGRO dan manajemen AGRO, tetapi juga mencakup hubungan antarlevel manajemen AGRO dan antara manajemen AGRO dengan pegawai AGRO. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mekanisme tata kelola yang baik juga perlu diterapkan di dalam hubungan internal perseroan untuk memastikan bahwa seluruh pihak di dalam perseroan memiliki tujuan dan perilaku yang sama-sama didasarkan pada kepentingan terbaik perseroan.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Employee Stock Option Program (ESOP) sebagaimana MSOP merupakan salah satu bentuk strategi untuk memastikan bahwa tata kelola perusahaan yang baik telah diterapkan di dalam hubungan internal perseroan. Dengan ESOP, pegawai diberi motivasi untuk bekerja dalam rangka meningkatkan kinerja perseroan. Ketika pegawai AGRO memahami bahwa harga pasar saham AGRO berpotensi meningkat selaras dengan kinerja perseroan—yang berimplikasi pada peningkatan keuntungan mereka melalui ESOP, pegawai AGRO akan terdorong untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dalam rangka memaksimalkan profitabilitas dan pertumbuhan laba perseroan.

Dapat disimpulkan bahwa MSOP dan ESOP—yang sering digabungkan menjadi istilah MESOP—merupakan salah satu bentuk mekanisme penerapan tata kelola perusahaan yang baik melalui pemberian insentif atau kompensasi. Meskipun menawarkan berbagai kelebihan, implementasi MESOP juga dapat menimbulkan kerugian, terutama ketika manajemen dan pegawai cenderung memiliki pandangan miopia untuk mendorong profitabilitas dan harga saham perseroan dalam jangka pendek dengan mengorbankan kinerja dan kredibilitas perseroan di masa depan. Oleh karena itu, implementasi MESOP perlu didukung oleh bauran mekanisme tata kelola lainnya seperti penunjukan direksi dan/atau komisaris independen, pelaporan laporan keuangan yang telah diaudit, pemahaman terkait risiko akuisisi oleh pihak lain (takeover constraint), dan penerapan sistem pengendalian strategis misalnya melalui balance scorecard.

Referensi:
Hill, Charles W.L. and Jones, Gareth R., Strategic Management: An Integrated Approach, 10th. Ed., 2013, South – Western, 5191 Natorp Boulevard, Mason OH USA.

Was this helpful?

0 / 0

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *