Implementasi Matriks Ansoff (Ansoff Matrix) oleh Perusahaan Pertambangan Batu Bara - Blog Pajak dan Bisnis

Implementasi Matriks Ansoff (Ansoff Matrix) oleh Perusahaan Pertambangan Batu Bara

Sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor usaha unggulan yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Meskipun mengalami penurunan pada tahun sebelumnya, sektor pertambangan dan penggalian mampu memberikan kontribusi sebesar Rp993,5 triliun atau 6,4% dari total nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2020 (BPS, 2021).

Selama tahun 2016 sampai dengan 2020, kontribusi industri pertambangan batu bara dan lignit terhadap sektor usaha pertambangan dan penggalian menunjukkan angka yang terus meningkat. Di tahun 2020, industri pertambangan batu bara dan lignit menyumbang Rp283 triliun dari total nilai PDB atau meningkat sebesar 22,5% dibandingkan kontribusi di tahun 2016 yang mencapai Rp231 triliun (BPS, 2021). Nilai ini hanya lebih kecil dibandingkan industri pertambangan minyak, gas, dan panas bumi yang menyumbang sebesar Rp332,6 triliun dari total PDB 2020 (BPS, 2021).

Jumlah produksi batu bara Indonesia juga menunjukkan peningkatan yang didorong oleh peningkatan permintaan di dalam negeri dan luar negeri. Di tahun 2018, jumlah produksi batu bara nasional mencapai 557 juta ton (DEN, 2019). Dari jumlah tersebut, porsi batu bara yang diekspor sebesar 357 juta ton atau 63% dari total produksi dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia setelah Australia (DEN, 2019). Sementara itu, konsumsi batu bara dalam negeri terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Di tahun 2018, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berkontribusi 56,4% dari total produksi pembangkit listrik sebesar 283,8 TWh (DEN, 2019).

Sebagai negara dengan cadangan batu bara terbesar kelima di dunia dengan jumlah cadangan mencapai 39,9 miliar ton, batu bara masih akan menjadi salah satu sumber energi utama untuk pembangkit listrik dan sebagian sektor industri (DEN, 2019). Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan di masa depan yang perlu diwaspadai oleh perusahaan pertambangan batu bara agar dapat dengan segera menentukan langkah strategis yang tepat dalam rangka menjaga keberlangsungan bisnis.

Tantangan pertama adalah fluktuasi harga batu bara yang tidak dapat diprediksi. Harga komoditas batu bara dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain seperti kondisi perekonomian, tingkat permintaan batu bara dunia, nilai tukar mata uang, dan kondisi cuaca dan iklim. Sebagai contoh, selama pandemi COVID-19 Harga Batu bara Acuan (HBA) terkontraksi dalam hingga mencapai titik terendah sebesar USD49,42 per ton pada bulan September 2020 meskipun pada akhirnya mengalami peningkatan tajam hingga USD100,33 per ton pada bulan Juni 2021 seiring dengan pemulihan ekonomi dunia (Ditjen Minerba, 2021). Oleh karena itu, perusahaan pertambangan batu bara harus mampu menyusun strategi bisnis yang tepat agar mampu bertahan ketika harga batu bara mengalami penurunan dan sebaliknya, memaksimalkan kesempatan ketika terjadi peningkatan atas harga batu bara.  

Tantangan selanjutnya yang perlu diwaspadai oleh perusahaan pertambangan batu bara adalah adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi proporsi penggunaan batu bara dalam bauran energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam siaran persnya menyatakan akan mengakselerasi pencapaian target bauran energi nasional yang salah satunya melalui penurunan porsi penggunaan batu bara dari 38,04% di tahun 2020 menjadi minimal 30% di tahun 2025 dan selanjutnya terus berkurang hingga menjadi minimal 25% di tahun 2050 (DEN, 2020). Sementara itu, PT PLN (Persero) juga akan menghentikan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas total mencapai 50,1 GW dalam rangka mencapai target karbon netral di tahun 2060 (CNN Indonesia, 2021).

Pemahaman atas kondisi internal dan eksternal merupakan prasyarat utama dalam proses perumusan rencana strategis perusahaan. Dengan menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats), perusahaan mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan internal serta kesempatan dan ancaman eksternal guna menentukan rencana strategis yang akan diadopsi dalam rangka penciptaan keunggulan bersaing (Hill dan Jones, 2013). Strategi terbaik yang dipilih seharusnya mampu memaksimalkan kelebihan yang dimiliki dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia dan di sisi lain, mampu menutupi kelemahan internal sekaligus menghadapi setiap ancaman yang berpotensi muncul.

 Salah satu model yang dapat digunakan untuk menentukan strategi bisnis yang akan diadopsi adalah Matriks Ansoff (Ansoff Matrix). Secara garis besar matriks ini menawarkan empat jenis strategi yang dapat dipilih dengan mempertimbangkan dimensi produk dan pasar. Strategi pertama adalah strategi penetrasi pasar (market penetration) dengan menggunakan produk dan pasar yang telah ada untuk memaksimalkan pertumbuhan. Strategi kedua adalah strategi pengembangan pasar (market development) melalui penemuan pasar baru untuk penggunaan produk yang telah ada. Strategi ketiga adalah strategi pengembangan produk (product development) yang dicapai dengan mengembangkan produk baru untuk pasar yang telah ada. Strategi terakhir yang dapat diadopsi adalah strategi diversifikasi (diversification) yaitu strategi yang dilakukan dengan mengembangkan produk baru untuk pasar yang juga baru.

Tulisan ini akan mengidentifikasi penerapan masing-masing strategi di dalam Matriks Ansoff oleh perusahaan pertambangan batu bara. Dengan demikian, terdapat empat perusahaan yang dipilih sedemikian rupa sehingga setiap perusahaan dapat mewakili salah satu strategi di dalam matriks. Perusahaan tersebut adalah PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Adaro Energy Tbk. (ADRO), dan PT Indika Energy Tbk. )INDY). Perlu dipahami bahwa masing-masing perusahaan mungkin saja menggunakan lebih dari satu jenis strategi, tetapi pembahasan hanya dilakukan terhadap satu strategi untuk setiap perusahaan.

Matriks Ansoff (Ansoff Matrix)

Matriks Ansoff merupakan matriks yang berisi strategi yang dapat diadopsi oleh bisnis dengan mempertimbangkan faktor lini produk dan pasar. Lini produk berkaitan dengan karakteristik fisik dan performa khusus yang dimiliki oleh produk, sedangkan pasar menunjukkan area penggunaan produk. Dengan demikian, strategi di dalam Matriks Ansoff merupakan strategi berbasis produk-pasar (product-market strategy) dan terdiri dari empat jenis strategi sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1.

rikiasp.id Ansoff Matrix
Matriks Ansoff

Sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1, terdapat empat strategi di dalam matriks yaitu (1) strategi penetrasi pasar (market penetration); (2) strategi pengembangan produk (product development); (3) strategi pengembangan pasar (market development); dan (4) strategi diversifikasi (diversification). Strategi penetrasi pasar menunjukkan upaya peningkatan kinerja dengan meningkatkan volume penjualan atau menemukan pelanggan baru tanpa meninggalkan strategi berbasis produk-pasar yang telah ada. Strategi pengembangan produk dilakukan dengan memperluas area atau pasar penggunaan produk. Di sisi lain, strategi pengembangan produk merupakan strategi pemertahanan area atau pasar penggunaan produk yang telah ada dan mengembangkan produk yang memiliki karakteristik baru, berbeda, dan unggul. Sementara itu, strategi diversifikasi menunjukkan peralihan dari struktur lini produk dan pasar yang telah ada ke struktur yang baru (Ansoff, 1957).

Implementasi Strategi Penetrasi Pasar oleh BSSR

PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) adalah perusahaan pertambangan dan perdagangan batu bara di Indonesia. Pada awalnya, BSSR beroperasi sebagai agen pemasaran dan perdagangan PT Tambang Batubara Bukit Asam di tahun 1990. Seiring berjalannya waktu, Perseroan memperluas usahanya ke bidang pertambangan batu bara dengan mengakuisisi PT Antang Gunung Meratus (AGM) pada tahun 1995 dan mulai berproduksi secara komersial sejak tahun 2011 (BSSR, 2021).

Perseroan melaksanakan kegiatan penambangan batu bara melalui izin yang diperoleh Perseroan dan anak usaha Perseroan, PT AGM. Perseroan memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi di Kabupaten Kutai Kartanegara seluas 2.459,76 hektar sampai dengan tanggal 21 Mei 2027. Sementara itu, PT AGM melakukan kegiatan usahanya berdasarkan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) pada tanggal 15 Agustus 1994. Berdasarkan ketentuan di dalam PKP2B, PT AGM bertanggung jawab mengelola operasi pertambangan batu bara seluas 22.433 hektar sampai dengan tahun 2029 (BSSR, 2021).  

Terdapat empat jenis produk batu bara yang dihasilkan oleh Perseroan yang dikelompokkan berdasarkan lokasi dan besaran kalori batu bara yang dihasilkan yaitu (1) BSSR 4100; (2) AGM 4200; (3) AGM 3700; dan (4) AGM 3400. Selain dijual kepada pelanggan di Indonesia dalam rangka memenuhi ketentuan Domestic Market Obligation (DMO), BSSR juga mengekspor batu bara mereka ke beberapa negara Asia seperti India, Korea Selatan, Tiongkok, Thailand, Filipina, dan Jepang (BSSR, 2021).

Pandemi Covid-19 mengakibatkan penurunan permintaan batu bara hingga 5,03% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini mengakibatkan produksi batu bara Perseroan selama tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 10,77% menjadi 10,58 juta MT dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 11,86 juta MT. Total penjualan Perseroan juga turun 20,72% dari USD418,09 juta di tahun 2019 menjadi USD331,46 juta di tahun 2020 (BSSR, 2021).

Salah satu strategi yang diterapkan oleh BSSR selama tahun 2020 adalah dengan memaksimalkan penjualan batu bara ke dalam negeri. Dengan kata lain, dalam kaitannya dengan Matriks Ansoff, BSSR menerapkan strategi penetrasi pasar dengan meningkatkan volume penjualan batu bara di pasar dalam negeri. Penerapan strategi penetrasi pasar dalam negeri dilatarbelakangi harga batu bara domestik yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga ekspor (BSSR, 2021).

Secara teoritis, upaya meningkatkan penjualan batu bara di pasar domestik menunjukkan kesigapan BSSR dalam menangkap setiap kesempatan yang tersedia di tengah kondisi ketidakpastian industri akibat pandemi. Dengan memaksimalkan penjualan di dalam negeri, Perseroan dapat mereduksi dampak negatif penurunan harga dan permintaan batu bara terhadap profitabilitas Perseroan.

Keberhasilan Perseroan untuk melakukan penetrasi pasar dalam negeri terlihat dari peningkatan penjualan batu bara dalam negeri sebesar 2,63% dari USD123,4 juta di tahun 2019 menjadi USD126,7 juta di tahun 2020. Proporsi penjualan batu bara dalam negeri terhadap total penjualan batu bara juga ikut meningkat. Di tahun 2020, penjualan batu bara domestik mencakup hingga 38,24% total penjualan batu bara, naik jika dibandingkan dengan proporsi di tahun sebelumnya yang sebesar 29,5% (BSSR, 2021). Penjualan domestik ini sekaligus melampaui persyaratan DMO yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 25% dari total penjualan.

Selain meningkatkan penjualan dalam negeri, BSSR juga berhasil membukukan penjualan batu bara hasil produksinya dengan harga yang tetap (fixed price). Penjualan dengan harga tetap akan berimplikasi positif bagi Perseroan mengingat sepanjang tahun 2020 harga batu bara mengalami tren penurunan.

Meskipun penjualan mengalami penurunan, laba bersih BSSR di tahun 2020 naik sebesar 0,17% menjadi USD30,52 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar USD30,47 juta. Peningkatan laba bersih ini antara lain disebabkan oleh strategi efisiensi yang dilakukan oleh Perseroan yang mencakup negosiasi dengan kontraktor tambang, kontraktor angkutan darat, dan kontraktor tongkang, serta memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana milik Perseroan. Secara agregat, rata-rata total biaya Perseroan turun 13% atau sebesar USD4,19 per ton dibandingkan tahun 2019 (BSSR, 2021).

Implementasi Strategi Pengembangan Pasar oleh PTBA

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang dimiliki oleh negara melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) / MIND ID. Perseroan didirikan pada tanggal 2 Maret 1981 dan berhasil mencatatkan sahamnya di bursa pada tanggal 23 Desember 2002 (PTBA, 2021).

PTBA dan anak usahanya menjalankan bisnis pertambangan batu bara berdasarkan IUP Operasi Produksi dengan total area kelolaan seluas 93.528 hektar dan total sumber daya batu bara mencapai 8,5 miliar ton. Batu bara yang dihasilkan oleh Perseroan dan anak usahanya dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu (1) PTBA dengan merek BA-48, BA-50, BA 64, BA 67, dan BA 71; dan (2) IPC dengan merek GAR 4600, GAR 4700, dan GAR 4800 (PTBA, 2021).

Hingga akhir tahun 2020, Perseroan telah memasuki tahap finalisasi Cooperation Agreement proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Dalam program hilirisasi tersebut, PTBA bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products & Chemicals Inc. untuk mengubah batu bara menjadi DME dalam rangka mengurangi ketergantungan atas impor Liquid Petroleum Gas (LPG). Pelaksanaan program gasifikasi batu bara ini juga sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk mewujudkan ketahanan energi dan penguatan ekonomi hijau (green economy) (PTBA, 2021).

Proyek gasifikasi batu bara menjadi DME yang digagas oleh PTBA juga telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020. Proyek ini akan dilaksanakan selama 20 tahun dan mendatangkan investasi asing sebesar USD2,1 miliar. Dengan utilitas 6 juta ton batu bara per tahun, proyek ini diestimasi akan menghasilkan 1,4 juta DME. Dengan demikian, terdapat potensi pengurangan impor LPG sebesar 1 juta ton per tahun yang akan memperbaiki neraca perdagangan. Selain itu, proyek ini diharapkan dapat memberikan multiplier effect berupa penarikan modal atau investasi asing, pemberdayaan industri nasional, dan penyerapan tenaga kerja lokal (PTBA, 2021).

Di akhir tahun 2020, PTBA juga menandatangani Head of Agreement dengan produsen dan pemasok karbon aktif Activated Carbon Technologies PTY Ltd (ACT) yang berbasis di Australia. Dalam proyek hilirisasi ini, batu bara PTBA akan diolah menjadi karbon aktif yang dapat dimanfaatkan untuk proses penjernihan dan pemurnian air, pemurnian gas dan udara, filter industri makanan, penghilang warna untuk industri gula dan MSG, hingga penggunaan di bidang farmasi sebagai penetral limbah obat-obatan agar tidak membahayakan lingkungan. Proyek ini diprediksi mampu mengolah 60.000 ton batu bara menjadi 12.000 ton karbon aktif per tahun (PTBA, 2021).

Sebelumnya pada tanggal 20 Maret 2020 PTBA dan PT Pertamina (Persero) menandatangani kesepakatan hilirisasi batu bara menjadi metanol. Melalui kerja sama ini, PTBA akan mengolah batu bara kalori rendah menjadi metanol untuk disuplai ke Pertamina guna keperluan program Pertamina Gasoline A20 (PTBA, 2021).

Dalam kaitannya dengan Matriks Ansoff, hilirisasi batu bara yang dilakukan oleh PTBA dapat dipersepsikan sebagai bentuk strategi pengembangan pasar. Secara konseptual, strategi pengembangan pasar dilakukan dengan melakukan adaptasi atas lini produk yang ada (umumnya dengan perubahan karakteristik) dalam rangka misi atau area penggunaan produk yang baru (Ansoff, 1957). Proyek hilirisasi batu bara PTBA merupakan langkah perseroan untuk memperluas area atau pasar penggunaan produk yang telah ada selama ini. Dengan mengubah batu bara menjadi DME, Perseroan memperluas penggunaan batu bara sebagai alternatif pengganti LPG. Pengolahan batu bara menjadi karbon aktif juga akan memperluas area penggunaan batu bara di berbagai sektor industri. Terakhir, kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dalam mengubah batu bara menjadi metanol membuka pasar baru penggunaan batu bara sebagai suplemen bahan bakar kendaraan.

Perlu dipahami bahwa proyek hilirisasi batu bara yang dilakukan oleh PTBA di tahun 2020 masih berada pada tahap penandatanganan kerja sama sehingga belum memberikan dampak terhadap kinerja Perseroan. Sepanjang tahun 2020, Perseroan membukukan penjualan sebesar 17,33 triliun, turun 20,48% dari tahun 2019 sebesar Rp21,79 triliun. Secara keseluruhan laba usaha Perseroan turun 49,74% dari Rp5,01 triliun di 2019 menjadi Rp2,52 triliun di 2020 (PTBA, 2021).

Implementasi Strategi Pengembangan Produk oleh ADRO

PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) adalah salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang pertambangan batu bara dan energi. Kegiatan pertambangan batu bara Grup ADRO dimulai pada tahun 1992 ketika produksi Envirocoal pertama kali dilakukan dari tambang PT Adaro Indonesia di Kalimantan Selatan. Seiring berjalannya waktu, Perseroan mengakuisisi aset-aset batu bara termal dan metalurgi dalam rangka memperluas portofolio produk sebagai bagian dari keunggulan bersaing yang dimiliki oleh Perseroan (ADRO, 2021).

Sebagian besar batu bara yang dihasilkan ADRO merupakan batu bara sub bituminus dengan nilai kalori sedang antara 4.000 kkal/kg sampai dengan 5000 kkal/kg dan diperdagangkan dengan merek Envirocoal.  Selain itu, ADRO melalui Kestrel Coal Mine yang diakuisisi pada tahun 2018 juga memproduksi batu bara kokas premium atau high volatile hard cooking coal (HV HCC) yang memiliki kandungan abu dan fosfor rendah sehingga menjadikannya sebagai komponen penting dalam industri baja (ADRO, 2021).

Strategi pengembangan produk dalam konteks Matriks Ansoff dilakukan oleh ADRO dengan mulai memproduksi batu bara kokas keras dari Konsesi Maruwai di tahun 2020. Konsesi Maruwai menghasilkan batu bara kokas keras mid vol kualitas tinggi dengan kandungan abu dan fosfor yang rendah. Sepanjang tahun 2020, total produksi batu bara dari Konsesi Maruwai mencapai 1,88 juta ton (ADRO, 2021).

Batu bara kokas dari Konsesi Maruwai yang dikenal sebagai batu bara Lampunut ini telah diterima sejak tahun pertama ketika diperkenalkan di pasar. Karena karakteristik batu bara Lampunut yang kuat, di tahun 2020 Perseroan berhasil mencatatkan pengiriman pertama batu bara Lampunut kepada pelanggan di Jepang (ADRO, 2021). Produksi batu bara Lampunut melengkapi lini produk batu bara metalurgi yang dimiliki oleh Perseroan selain batu bara yang diproduksi oleh Kestrel.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produksi batu bara Lampunut merupakan salah satu bentuk pengembangan produk batu bara Perseroan untuk pangsa pasar industri baja yang selama ini telah dilayani oleh Perseroan melalui produk batu bara kokas dari Kestrel. Selain menambah bauran produk batu bara metalurgi Perseroan, ketersediaan batu bara kokas keras Lampunut berpotensi menopang bisnis ADRO dalam jangka panjang. Dibandingkan dengan produk batu bara termal, batu bara kokas ADRO memiliki harga yang lebih tinggi dan stabil, tingkat polutan yang rendah, dan sangat dibutuhkan oleh industri baja.

Sepanjang tahun 2020, volume produksi batu bara ADRO tercatat sebesar 54,53 juta ton atau turun 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan batu bara juga mengalami penurunan sebesar 9% menjadi 54,14 juta ton. Secara agregat, Perseroan membukukan laba inti sebesar USD405 juta atau turun 36% dibandingkan tahun 2019 (ADRO, 2021).

Implementasi Strategi Diversifikasi oleh INDY

PT Indika Energi Tbk (INDY) merupakan perusahaan energi terintegrasi dan terdiversifikasi yang terkemuka di Indonesia dengan portofolio bisnis mencakup sektor sumber daya energi, jasa energi, infrastruktur energi, dan merambah ke sejumlah bisnis dengan peluang pertumbuhan yang kuat untuk menambah diversifikasi portofolio. Didirikan pada tahun 2000, INDY mencatatkan sahamnya di ke publik melalui IPO pada tahun 2008 (INDY, 2021).

Perseroan menjalankan bisnis pertambangan batu bara melalui PT Kideco Jaya Agung (PT KJA) yang merupakan perusahaan pertambangan batu bara terbesar ketiga di Indonesia dan PT Multi Tambangjaya Utama (PT MTU) yang memproduksi batu bara termal dan batu bara kokas. PT KJA didirikan pada tahun 1982 dan memperoleh konsesi penambangan batu bara seluas 50.921 hektar di Kalimantan Timur berdasarkan PKP2B sampai dengan tahun 2023. Sementara itu, PT MTU memegang hak penambangan batu bara berdasarkan PKP2B sampai dengan tahun 2039 di Kalimantan Tengah dengan luas areal sebesar 24.970 hektar (INDY, 2021).

Strategi diversifikasi yang dilakukan oleh INDY dilakukan dengan mengembangkan diversifikasi bisnis dan meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis non-batu bara, termasuk dari sektor energi terbarukan dan jasa yang tidak berkaitan dengan sektor energi. Di tahun 2025, Perseroan menargetkan pendapatan dari sektor non-batu bara berkontribusi sebesar 50% dari pendapatan Perseroan (INDY, 2021).

Salah satu strategi diversifikasi yang dilakukan oleh INDY adalah dengan mendirikan PT Zebra Cross Teknologi (ZebraX) yang merupakan perusahaan digital yang menggabungkan keahlian teknologi digital dengan konsultasi operasi dan pengetahuan lokal untuk mendukung dan mempercepat adopsi Industry 4.0 di Indonesia. INDY juga menggunakan keahlian divisi teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) internal Perseroan sebagai pengungkit untuk mendirikan ventura internal baru (internal new venture) berupa PT Xapiens Teknologi Indonesia (Xapiens). Xapiens diarahkan untuk memberikan pelayanan TIK dalam rangka perbaikan produktivitas perusahaan melalui pengembangan dan pengelolaan aplikasi perusahaan, pengintegrasian sistem dan solusi, dan penyediaan layanan proteksi teknologi informasi dan teknologi operasional (INDY, 2021).

Selain mendiversifikasikan bisnis ke sektor digital, Perseroan juga mulai memasuki bisnis penyediaan energi baru terbarukan (EBT). Pada tanggal 3 Maret 2021, perusahaan membentuk perusahaan patungan yaitu PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) dengan Fourth Partner Energi, perusahaan panel tenaga surya asal India. EMITS dibentuk untuk mengembangkan bisnis energi terbarukan khususnya tenaga surya di Indonesia (INDY, 2021).

Selama tahun 2020, pendapatan Perseroan masih didominasi oleh pendapatan dari sektor batu bara sebesar 76,2% sementara sisanya sebesar 23,8% disumbang oleh bisnis non-batu bara. Secara agregat, Perseroan mencatat kenaikan kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik menjadi sebesar USD119,4 juta dibandingkan kerugian tahun sebelumnya sebesar USD18,2 juta (INDY, 2021).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, simpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.

  1. Strategi penetrasi pasar yang dilakukan oleh BSSR dilakukan dengan meningkatkan penjualan batu bara di dalam negeri. Strategi ini menunjukkan sikap adaptif BSSR dalam merespons harga batu bara domestik yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga ekspor.
  2. Proyek hilirisasi batu bara yang dilakukan oleh PTBA merupakan salah satu bentuk strategi pengembangan pasar. Melalui hilirisasi, terdapat perluasan area penggunaan batu bara sebagai pengganti LPG, karbon aktif untuk berbagai industri, dan campuran bahan bakar kendaraan.
  3. ADRO menerapkan strategi pengembangan produk dengan mulai memproduksi batu bara kokas Lampunut yang melengkapi lini produk batu bara metalurgi bagi industri baja yang selama ini telah dilayani oleh ADRO melalui batu bara kokas Kestrel.
  4. Pendirian ZebraX dan Xapiens yang merupakan perusahaan teknologi dan EMITS yang bergerak di bidang EBT menunjukkan upaya INDY untuk mendiversifikasikan bisnisnya dan mengurangi ketergantungan Perseroan terhadap bisnis batu bara.

Daftar Pustaka

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Ansoff, Igor. 1957. Strategies for Diversification. Harvard Business Review.

Hill, Charles W.L. and Jones, Gareth R., 2013. Strategic Management: An Integrated Approach, 10th. Ed. South – Western, 5191 Natorp Boulevard, Mason OH USA.

Badan Pusat Statistik. 2021. Pendapatan Nasional Indonesia 2016 – 2020.

CNN Indonesia. 2021. PLN Pensiunkan Pembangkit Listrik Batu Bara pada 2025.

Dewan Energi Nasional. 2019. Indonesia Energi Outlook 2019.

Dewan Energi Nasional. 2020. Bauran Energi Nasional.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2021. Harga Acuan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Siaran Pers Nomor 126.Pers/04/SJI/2021 tanggal 7 April 2021. Forum Kehumasan DEN: Menuju Bauran Energi Nasional 2025.

PT Baramulti Suksessarana Tbk. 2021. Laporan Tahunan 2020.

PT Bukit Asam Tbk. 2021. Laporan Tahunan 2020.

PT Bukit Asam Tbk. 2021. Proyek Gasifikasi Batu Bara Guna Pangkas Impor LPG, Kembangkan Green Economy, dan Bawa Investasi ke Indonesia.

PT Bukit Asam Tbk. 2021. Gasifikasi Batu Bara PTBA Jadi Proyek Strategis Nasional.

PT Bukit Asam Tbk. 2021. Semangat Hilirisasi, PTBA Tanda Tangani HoA Produksi Karbon Aktif.

PT Adaro Energy Tbk. 2021. Laporan Tahunan 2020.

PT Indika Energy Tbk. 2021. Laporan Tahunan 2020.

Was this helpful?

0 / 0

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *