Evaluasi Pemasok dengan Activity-Based Costing

Tidak hanya dapat digunakan untuk mengevaluasi pelanggan (customer), Activity-Based Costing (ABC) juga dapat diaplikasikan untuk mengevaluasi pemasok (supplier). Melalui ABC, kita dapat menghitung “biaya sebenarnya” yang dibebankan oleh pemasok kepada kita atas pembelian produk atau jasa mereka.

Pada dasarnya, biaya yang harus ditanggung dari pembelian produk atau jasa dari pemasok tidak hanya merupakan harga produk atau jasa tersebut, tetapi juga termasuk biaya-biaya yang timbul sebagai akibat dari transaksi pembelian seperti biaya penerimaan dan pemeriksaan produk, biaya keterlambatan pengiriman dari pemasok, atau biaya perbaikan atau pengembalian produk karena produk yang dikirim merupakan produk cacat. Oleh karena itu, “biaya pembelian sebenarnya” dari pemasok seharusnya mencakup seluruh biaya-biaya dimaksud.

Dengan menggunakan ABC, kita dapat mengevaluasi pemasok dengan melekatkan seluruh biaya terkait pembelian produk atau jasa berdasarkan aktivitas pemicunya untuk setiap pemasok. Dengan cara ini, dapat diketahui pemasok mana yang memberikan kita biaya yang lebih besar dibandingkan pemasok lainnya.

Contoh Evaluasi Pemasok dengan Activity-Based Costing (ABC)

Untuk memudahkan pemahaman tentang bagaimana pengaplikasian ABC dalam mengevaluasi pemasok, asumsikan Anda selaku pengusaha fashion memiliki dua pemasok bahan baku berupa kain, yaitu Pemasok A dan Pemasok B. Data pembelian bahan baku dari kedua pemasok disajikan dalam Tabel 1.

DeskripsiPemasok APemasok B
Harga beli per m (Rp)80.000100.000
Jumlah bahan yang dibeli (m)1.0001.000
Jumlah pengiriman (kali)2010
Jumlah keterlambatan pengiriman (kali)82
Jumlah bahan cacat yang dikirim (m)9010
Tabel 1. Data Pembelian

Anda juga mengidentifikasi beberapa biaya yang timbul dalam kaitannya dengan aktivitas pembelian bahan baku dari pemasok sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2. Biaya penerimaan dan inspeksi bahan timbul dari aktivitas pengiriman bahan baku oleh pemasok. Biaya penundaan produksi muncul karena pemasok terlambat mengirimkan bahan baku sesuai jadwal yang ditentukan. Sementara itu, biaya perbaikan bahan cacat muncul karena bahan baku yang dikirimkan oleh pemasok tidak memenuhi kriteria yang ditentukan.

Jenis BiayaNilai (Rp)
Biaya penerimaan dan inspeksi bahan30 juta
Biaya penundaan produksi20 juta
Biaya perbaikan bahan cacat10 juta
Tabel 2. Biaya Lain Terkait Pembelian

Dengan memperhatikan data pada Tabel 1 dan Tabel 2, bagaimana Anda dapat menentukan pemasok mana yang lebih baik dalam menyediakan bahan baku kepada Anda dari segi biaya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda dapat menggunakan ABC untuk mengevaluasi pemasok mana yang lebih baik bagi usaha Anda ditinjau dari sisi biaya. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghubungkan biaya dengan aktivitas pemicunya untuk kemudian menentukan tingkat aktivitas (activity rate), yaitu sebagai berikut.

  1. Biaya penerimaan dan inspeksi bahan sebesar Rp30 juta dipicu oleh aktivitas jumlah pengiriman yang dilakukan oleh pemasok. Dengan total pengiriman sebanyak 30 kali (20+10), tingkat aktivitas atas penerimaan dan inspeksi bahan adalah sebesar Rp1 juta per pengiriman dari pemasok (Rp30 juta/30);
  2. Biaya penundaan produksi sebesar Rp20 juta disebabkan oleh keterlambatan pengiriman oleh pemasok. Mengingat total keterlambatan pengiriman adalah sebanyak 10 kali (8+2), tingkat aktivitas atas penundaan produksi adalah sebesar Rp2 juta per keterlambatan pengiriman oleh pemasok (Rp20 juta/10); dan
  3. Biaya perbaikan bahan cacat sebesar Rp10 juta disebabkan oleh adanya bahan cacat yang dikirimkan oleh pemasok sehingga membutuhkan perbaikan terlebih dahulu sebelum diproses. Ketika total bahan cacat yang dikirim oleh pemasok mencapai 100 m (90+10), tingkat aktivitas atas perbaikan bahan cacat adalah sebesar Rp100 ribu per m bahan cacat yang dikirim oleh pemasok (Rp10 juta/100).

Setelah memperoleh tingkat aktivitas atas biaya-biaya lain terkait pembelian, langkah selanjutnya adalah menghitung biaya sebenarnya yang dibebankan oleh pemasok atas pembelian bahan baku dari mereka. Hasil penghitungan ini disajikan dalam Tabel 3.

DeskripsiPemasok APemasok B
Biaya (harga) bahan
80.000 x 1.00080.000.000
100.000 x 1.000100.000.000
Biaya penerimaan dan inspeksi
20 x 1.000.00020.000.000
10 x 1.000.00010.000.000
Biaya penundaan produksi
8 x 2.000.00016.000.000
2 x 2.000.0004.000.000
Biaya perbaikan bahan cacat
90 x 100.0009.000.000
10 x 100.0001.000.000
TOTAL BIAYA125.000.000115.000.000
Jumlah bahan yang dibeli (m)1.0001.000
TOTAL BIAYA BAHAN PER M 125.000115.000
Tabel 3. Hasil Evaluasi Pemasok

Berdasarkan Tabel 3, dapat disimpulkan bahwa meskipun Pemasok A menawarkan harga bahan baku yang lebih murah dibandingkan Pemasok B (Rp80 ribu < Rp100 ribu), secara keseluruhan justru Pemasok A yang membebankan biaya bahan yang jauh lebih besar dibandingkan Pemasok B (Rp125 ribu > Rp115 ribu). Hasil evaluasi ini dapat Anda gunakan untuk merumuskan strategi pembelian bahan baku sedemikian rupa sehingga total biaya bahan dapat diminimalkan dalam rangka meningkatkan profitabilitas. Sebagai contoh, ketika Pemasok A tidak dapat meningkatkan kinerjanya dalam menyediakan bahan baku dalam jumlah besar (yang menurunkan jumlah pengiriman) dan mengirimkan bahan baku yang memenuhi kriteria secara tepat waktu, maka Anda dapat mempertimbangkan untuk membeli bahan baku lebih banyak dari Pemasok B.

Referensi:

Mowen, Maryanne M., Don R. Hansen, dan Dan L. Heitger. (2014). Cornerstones of Managerial Accounting 5th Edition. South-Western Cengage Learning.

Was this helpful?

1 / 0

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *